Pages

Sunday, January 17, 2010

Film Porno Tidak Mempengaruhi Perilaku Seks Laki-laki

Film Porno Tidak Mempengaruhi Perilaku Seks Laki-lakiSemua laki-laki pernah menonton film porno, begitulah fakta yang terungkap dari hasil penelitian di Universitas Montreal, Kanada. Fakta itu berdasarkan niat para peneliti itu ketika ingin meneliti perbedaan pandangan laki-laki di usia 20-an, yang belum pernah menonton film porno dengan yang tidak.

Namun penelitian tersebut kemudian terhambat, karena para peneliti tidak dapat menemukan laki-laki yang belum pernah menonton film porno. Salah satu peneliti, Prof. Simon Louis Lajeunesse, akhirnya mengubah tujuan penelitiannya menjadi peninjauan film porno terhadap laki-laki di usia 20-an.

Dilansir Telegraph, Jumat (8/1/2010), setelah mewawancarai 20 laki-laki heteroseksual yang pernah mengkonsumsi pornografi, Prof. Simon Louis mendapatkan hasil, rata-rata laki-laki menonton film porno pertama kali pada usia 10 tahun. Fakta lain yang didapat adalah 90 persen laki-laki menonton film porno dari internet, sisanya dengan membeli atau meminjam dari rental film.

Penelitian tersebut juga menemukan fakta, bahwa laki-laki single rata-rata menonton film porno selama 40 menit, tiga kali dalam seminggu. Sedangkan laki-laki yang mempunyai pasangan rata-rata menonton film porno lebih jarang ketimbang laki-laki single. Mereka menonton film porno selama 20 menit dalam 1,7 kali selama seminggu.

Meskipun laki-laki cukup sering menonton film porno, namun penelitian tersebut mengatakan bahwa film porno tidak berdampak negatif terhadap kehidupan seks mereka. Bahkan praktek seksual yang mereka lakukan tergolong konvensional.

"Pornografi tidak berubah persepsi mereka terhadap perempuan atau hubungan mereka. Yang mereka inginkan adalah menjadi harmonis dan memuaskan, " pungkas Prof. Simon Louis.

Friday, January 1, 2010

Belasan Gay Lesbian Menikah di Tahun Baru

Belasan Gay Lesbian Menikah di Tahun Baru lesbi homoBelasan pasangan gay dan lesbian bergegas menikah di New Hampshire pada hari Jumat ketika wilayah itu menjadi negara bagian kelima di AS yang membolehkan pernikahan sesama jenis. Kebijakan itu telah dinilai telah menyebabkan kemunduran polarisasi gerakan nasional.

"Aku merasa luar biasa. Itu indah, dan bersejarah, " kata Linda Murphy ( 50), seorang administrator perguruan tinggi dari selatan New Hampshire yang menikah dengan Donna Swartwout, pasangannya yang berusia 19 tahun.

Mereka adalah salah satu di antara 150 orang yang berkumpul di ibukota negara bagian Concord, pada suhu sekitar 21 derajat Fahrenheit, untuk menyaksikan perkawinan dari belasan pasangan gay atau lesbian oleh hakim pada tahun baru

New Hampshire rupanya telah mengabaikan sistem hukumnya yang bulan Juni lalu memunculkan siap emosional dalam sebuah debat nasional. Presiden Barack Obama menentang pernikahan gay namun mendukung hak gay lain.

New England bergabung dengan negara bagian Massachusetts, Vermont, Connecticut dan Iowa dalam hal kebijakan perkawinan penuh yang memungkinkan kesetaraan bagi pasangan berjenis kelamin sama. Washington, D.C., juga berada di jalur yang sama untuk memberi persetujuan.

"Orang-orang fokus pada kemunduran, tahun lalu ada satu negara dan sekarang ada lima negara bagian, " kata Mo Baxley, direktur eksekutif Koalisi Kebebasan untuk Menikah New Hampshire .

Murphy dan Swartwout, yang bertemu di sekolah pascasarjana, memiliki komitmen melakukan upacara 11 tahun lalu, tapi kata pejabat perkawinanm, apa yang mereka lakukan saat ini jauh lebih makna. "Ini adalah penegasan kembali cinta kita dan komitmen kita, dan bagi kami, untuk pertama kalinya, sebuah pengakuan hukum dari negara, "kata Murphy.
hjjh